Pesona

Gong Xi Fa Cai (8 Februari 2016)

Menurut penanggalan Tionghua, tahun baru Imlek 2567 menandai dimulainya tahun monyet. Kalender Tionghua adalah penanggalan yang menggunakan baik perputaran matahari dan perputaran bulan (lunisolar). Bila dihitung berdasarkan kalender masehi, tahun baru imlek selalu jatuh di antara bulan Januari dan Februari. Tahun ini perayaan tahun baru Imlek jatuh pada pada hari Senin, 8 Februari 2016.

Gong xi gong xi. Tahun baru Imlek dirayakan secara meriah di sejumlah daerah. Tak terkecuali di Bali yang kental dengan budaya Hindu. Bagi warga Tionghoa yang turun temurun tinggal Pulau Dewata, budaya Bali seakan telah melekat pada diri mereka. Mereka sudah terbiasa menggunakan canang sebagai media persembahyangan. Canang merupakan rangkaian beraneka warna bunga dan irisan daun pandan yang diletakkan dalam wadah yang terbuat dari janur yang dibentuk sedemikian rupa.

Tidak meninggalkan tradisi sebagai keturunan Cina, setelah semua benda suci Vihara disucikan, selanjutnya mereka mengarak barongsai dan naga.

Ada yang unik di Vihara Satya Dharma (Sesetan) yaitu sebelum mengarak barongsai dan naga, diadakan pertunjukan seni bela diri Cina yang terkenal (Kung Fu). Dan yang menarik adalah bukan orang dewasa yang menunjukan kebolehannya ber-Kung Fu melainkan anak dari usia empat tahun sampai usia tujuh belas tahun.
Beberapa jurus andalan diperlihatkan dalam atraksi ini, mulai dari tangan kosong sampai menggunkan senjata pedang, tongkat, tombak, dan nunchaku.

Barongsai

barongsai.jpg

Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi.
Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang ‘Kilin’.

Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring dengan tabuhan gong dan tambur, gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.

Satu gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilah ‘Lay See’. Di atas amplop tersebut biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang Singa. Proses memakan ‘Lay See’ ini berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian Singa

Tarian Naga

Tari Naga (karakter sederhana; karakter tradisional; pinyin: wǔ lóng) atau disebut juga Liang Liong di Indonesia adalah suatu pertunjukan dan tarian tradisional dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa.
Orang Tionghoa sering menggunakan istilah ‘Keturunan Naga’ sebagai suatu simbol identitas etnis.
Dalam tarian ini, satu regu orang Tionghoa memainkan naga-nagaan yang diusung dengan belasan tongkat. Penari terdepan mengangkat, menganggukkan, menyorongkan dan mengibas-kibaskan kepala naga-nagaan tersebut yang merupakan bagian dari gerakan tarian yang diarahkan oleh salah seorang penari. Terkadang bahkan kepala naga ini bisa mengeluarkan asap dengan menggunakan peralatan pyrotechnic.
Para penari menirukan gerakan-gerakan makhluk naga ini (berkelok-kelok dan berombak-ombak). Gerakan-gerakan ini secara tradisional melambangkan peranan historis dari naga yang menunjukkan kekuatan yang luar biasa dan martabat yang tinggi. Tari naga merupakan salah satu puncak acara dari perayaan Imlek di pecinan-pecinan di seluruh dunia.

Naga dipercaya bisa membawa keberuntungan untuk masyarakat karena kekuatan, martabat, kesuburan, kebijaksanaan dan keberuntungan yang dimilikinya. Penampilan naga terlihat menakutkan dan gagah berani, namun ia tetap memiliki watak yang penuh kebajikan. Hal-hal inilah yang pada akhirnya menjadikannya lambang lencana untuk mewakili kekuasaan kekaisaran.

Tahun 2016 adalah Tahun Monyet

Dalam Tahun Monyet, sifat alami dari hewat itu sendiri menjadi lambang, pengaruh atas orang yang mempercayai dan meyakininya. Kelincahannya, membuat masing-masing individu mengalami perkembangan yang cenderung fluktuatif dan terjadi relatif cepat, secara fisik maupun mental. Dengan begitu, suasana riang, suntuk, hubungan yang komunikatif dan membisu, kesehatan yang bugar serta stamina menurun. Hingga bersemangat, malas, perasaan damai dan cemas, akan jadi pasang surut pada tahun ini. Namun pengaruh tersebut, kiranya bukanlah halangan yang perlu dirisaukan. Pasalnya dalam Tahun Monyet, kehidupan berjalan bagai alam dimana hewan oportunis dan handal dengan kecerdikan berpetualang. Sehingga banyak peluang akan terbuka bagi individu yang cekatan saat mengerjakan sesuatu. Adapun, dari upaya yang pernah gagal pada waktu sebelumnya, pantas diulang kembali, guna membuahkan hasil, yaitu menemukan solusi di Tahun Monyet yang menjanjikan.

(KU)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s